Halaman Arsip 2

18
Jun
09

Sesaat

Keindahan tidak membuka sekaligus. Hanya bagi hati yang penyabar rahasia dibagikan sedikit demi sedikit. Sehari demi sehari. Kelopak demi kelopak terkuak sempurna. Sebagai bunga mekar di ujung kata. Memijar biar hanyalah sesaat. Terus begitu sarat dalam beribu ayat.

Sehat! satu kata ini sangat berarti bagi manusia. Betapa nikmat Tuhan yang memberikan kepada manusia ketika sehat. Kalau saja sehat bisa ditukar uang (ketika sakit) mungkin akan memilih menyerahkan uang berapa pun besarnya. Bisa dibayangkan tulang ikan yang sangkut ditenggorokan dan Lanjutkan membaca ‘Sesaat’

14
Jun
09

Iri dan Dengki

Pernah kita merasa tidak nyaman dengan keberhasilan orang lain? Senang bila bisnis teman merosot? Lega atas musibah yang menimpa tetangga? Atau tak rela bila pujian bukan untuk kita? Berkaitan dengan itu akan memunculkan bencana yang lebih besar. Penyakit iri dan dengki dapat menimpa siapa saja. Tak peduli status sosial, umur, dan jenis kelamin. Bahkan dengki pun bisa menjangkiti seorang pemimpi. Manakala mereka terlena dengan dunia dan terbius hawa napsunya. Iri dan dengki bisa muncul di kancah politik, di pasar, di kantor, atau di sekolah. Termasuk dalam pergaulan sehari-hari.

Lanjutkan membaca ‘Iri dan Dengki’

11
Jun
09

Kias 6

Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sore itu begitu muram. Cahaya jingga di kota besar mendadak hilang. Cakrawala tenggelam tertutup awan hitam. Sinar matahari senja itu telah raib kemana. 9 Pebruari mendung! Selepas senja sayup-sayup angin berhembus. Sementara cahaya halilintar berkilat-kilat di udara, diantara awan hitam yang menggantung di langit. Dan akhirnya awan yang sejak tadi mendung itu menumpahkan segala isinya. Hujan benar-benar deras! Percikannya mengotori debu. Waktu bergulir tanpa terasa. Malam datang menyelimuti. Gelap dan dingin. Kabut putih menutupi pohon dan hanya menyisakan bayangan hitam. Sesekali suara burung malam menyelingi nyanyian serangga dan binatang malam.

Lanjutkan membaca ‘Kias 6′

02
Jun
09

Kertas Putih

Ketika mata mulai meredup, hari semakin senja, jemari mulai terasa lemas.

Aku hanya terpaku menatap kertas putihku semakin kusut tergores pena.

Wahai angin malam sampaikan salamku pada siapa aku harus mengadu.

Sedangkan rembulan tertutup awan kelam. Gelap gulita.

Tak ada lagi terdengar suara hempasan ombak.

Tak ada lagi terdengar nyanyian kicau burung.

Aku hanya pasrah menatap kertas putihku.

Hanya rintihan hati dimana aku menemukan kata-kata mutiara tersebut.

Angin semilir nan sejuk yang selalu jadi keriduan para perantau

Lanjutkan membaca ‘Kertas Putih’

01
Jun
09

The Bajai

my bajai kehujanan

Barangkali bagi masyarakat Tanah Grogot sudah tak asing dengan kendaraan ini yang berfungsi sebagai sarana transportasi masyarakat setempat. Hal menarik berdasarkan beberapa cerita pengalaman pemilik kendaraan Bajai pada awalnya sudah banyak pengalaman pahit dan manis yang mereka lalui selama ini. Sejak awal kedatangannya kendaraan ini hingga sekarang dapatlah Lanjutkan membaca ‘The Bajai’

30
Mei
09

Tanah Paser Riwayatmu Dulu

Bagi masyarakat Kabupaten Paser dan bagi semua pihak yang pernah mengunjungi lokasi ini barangkali sudah tak menjadi pemandangan asing. Akan tetapi bagi yang belum pernah semoga gambar sederhana ini dapat bermanfaat, selamat menikmati. Anda berminat untuk melihat langsung silahkan kunjungi di Paser Belengkong, Kabupaten Paser.

Lanjutkan membaca ‘Tanah Paser Riwayatmu Dulu’

20
Mei
09

Muridku Tersayang

Sudah kebiasaan tantangan sebagai  guru apabila melakukan kegiatan proses belajar mengajar pada tengah hari dihadapkan pada persoalan para siswanya mengalami mengantuk, ribut, dan melamun. Berkaitan dengan itu sudah pasti diperlukan strategi agar murid tersebut dapat tertarik memperhatikan materi pelajaran. Bagi para guru yang pengalamannya sudah banyak itu lain persoalan, akan tetapi bagi yang belum banyak pengalaman senantiasa mesti dibiasakan. Menyikapi beberapa hari bertatap muka di depan kelas terdapat pemandangan sesosok murid yang dapatlah dikatakan memerlukan perhatian dan nampak sering melamun seorang diri. Sudah pasti dilanda problem kehidupan, diantaranya persoalan pacaran. Yoi, pacaran.  Konon katanya menurut pendapat murid sih pacaran memang asik, dunia dibuatnya tersenyum ramah, caile! Tapi kalau masalahnya berantam melulu. Timbulnya malah tidak nyaman dan minat belajar memudar dan bla….bla….Disuruh putus tidak mau. Katanya cinta, katanya tidak bisa pindah ke lain hati. Cuma….ah, tidak tahulah bingung! Aneh tapi nyata memang.

Lanjutkan membaca ‘Muridku Tersayang’

14
Mei
09

Kias 5

Beberapa jam berlalu. Kuliah sudah usai, tapi suasana kampus tampak masih ramai. Mungkin mereka ingin melihat hilir mudik  atau sekedar bercanda ria. Tiba-tiba siang itu semakin dingin dengan datangnya gerimis, langit tampak gelap dan risau. Dari arah kejauhan pepohonan basah dan tanah lembab. Jalan lebar di tengah kampus ini sungguh sepi, para penghuni kampus tentu lebih suka berdiam diri di dalam ruangan dengan kehangatan yang nyaman. Beberapa kali terlihat orang duduk membisu di sebuah kursi panjang. Beberapa orang terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat dan disulutnya sebatang rokok, dihisap tak beraturan. Kening Agus berkerut beberapa saat. Berdiri dari duduknya, mondar-mandir, lalu duduk kembali menanti hujan reda.

Lanjutkan membaca ‘Kias 5′

10
Mei
09

Malam minggu ke tempat sepi

Sunyi rasanya ketika malam minggu di tengah hutan memancing ikan dengan ditemani nyamuk yang terkadang telinga ini dibuatnya berdengung menanti darah segar. Suara kicau burung malam dan remang-remang cahaya rembulan menerangi suasana di tempat pemancingan. Harap-harap cemas menanti patukan ikan gabus yang lumayan besar mewarnai suasana pada saat itu. Memancing di tengah hutan pada malam hari jauh dari keramaian merupakan salah satu tempat alternatif pelepas kejenuhan rutinitas harian.

Lanjutkan membaca ‘Malam minggu ke tempat sepi’

08
Mei
09

Kias 4

Setibanya di kampus, Agus terlebih dahulu duduk di sebuah kursi panjang. Persis di sampingnya beberapa gadis tengah sibuk membaca buku menanti kehadiran materi kuliah. “Ramah, aku menemani matamu gadis. Kolam matamu seperti hendak membenamkan wajahku di sana. Alangkah indah kedalamannya. Tak berujung, seperti hatiku yang semakin selalu mengeluarkan keterpesonaan baru. Terpesona akan-Mu. Duhai siapakah dia yang menghasilkanmu? kenalkan aku dengannya!” (sebuah keterpesonaan yang entah terjadi di mana?)

Lanjutkan membaca ‘Kias 4′