13
Sep
09

Perang

Masyarakat kita hanya punya satu rujukan jika disodorkan kata “penjajahan”, rujukannya tak lain adalah gelombang kolonisasi yang dibawa oleh negara-negara asing (portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang). Dalam pandangan mereka tak ada gambaran lain tentang definisi penjajahan selain tindakan biadab para kompeni yang mencoba menganggu bumi pertiwi. Tak mengherankan jika kemudian rujukan mereka tentang “perlawanan” juga hanya satu, yakni kontak senjata antara para pahlawan dan tentara asing. Dalam pandangan mereka tak ada gambaran lain tentang perlawanan selain berperang, membunuh atau terbunuh.

Dalam batas-batas tertentu, pandangan ini tentu saja tidak salah. Apalagi jika diingat bahwa perang menuntut keberpihakan, yang berarti juga menunjukkan pembelaan dan kecintaan. Tetapi, jika pandangan ini diperjelas nilainya, tersimpan sebuah bahaya besar yang dapat membunuh orientasi kepribadian sebuah bangsa. Kalau rujukan kata penjajahan adalah eksodus besar-besaran tentara berkulit putih yang kemudian membuat hura-hura di tanah air, maka konsikuensinya di alam modern ini tak ada lagi proses yang namanya penjajahan. Kata penjajahan dengan definisinya yang demikian juga bisa dihilangkan saja dari kamus bahasa. Toh tentara kompeni itu sudah angkat kaki dari negeri kita, tak ada lagi perang. Tak ada lagi acara bunuh membunuh. Begitu pula pandangan tentang perlawanan. Jika perlawanan berarti mengangkat senjata, bersiap siaga untuk sewaktu-waktu menembak tentara yang lewat, maka perlawanan seperti itu sudah tak berlaku lagi sekarang. Siapa yang mau ditembak jika penjajahnya sudah lama minggat.

Maka konsikuensi yang diterima masyarakat kita hari ini adalah menampilkan pandangan mereka tentang penjajahan dan perlawanan itu dalam bentuk pentas panggung. Mereka bikin drama peperangan, dar-der-dor. Setelah acara selesai apa yang tersisa? Tidak ada. Padahal mereka hidup di alam yang juga sedang memperagakan penjajahan: pakaian minim, panggung hiburan, seks bebas, narkoba, pornograpi dan bla…bla…Tetapi bentuk penjajahan itu sama dengan pandangan mereka terhadap penjajahan yang pertama. Alhasil, bentuk perlawanan terhadap penjajahan itu tak pernah ada, karena menurut mereka seusai perang tak ada lagi perlawanan.


2 Tanggapan ke “Perang”


  1. September 18, 2009 pukul 4:50 p09

    Terselip khilaf dalam candaku,
    Tergores luka dalam tawaku,
    Terbelit pilu dalam tingkahku,
    Tersinggung rasa dalam bicaraku.
    Hari kemenangan telah tiba,
    Semoga diampuni salah dan dosa.
    Mari bersama bersihkan diri,
    sucikan hati di hari Fitri.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqobalallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllll

    ***sama-sama met hari raya idul fitri 1430 H

  2. September 18, 2009 pukul 4:50 p09

    Kedaling rasa nu pinuh ku bangbaluh hate, urang lubarkeun, ngawengku pinuh ku nyuuh, meungpeung wanci can mustari. Taqabalallahu Minna Wa Minkum
    Wilujeng Idul Fitri 1430 H, sim kuring neda dihapunten samudaya kalepatan.
    Kuring neda dihapunten kana samudaya kalepatan, boh bilih aya cariosan anu matak ngarahetkeun kana manah, da sadayana oge mung saukur heureuy, manusa mah teu tiasa lumpat tina kalepatan jeung kakhilafan

    ***slam persahabatan z kangboed


Tinggalkan Balasan