Kendati relatif singkat menyaksikkan acara di tempat promosi seni dan budaya pada malam minggu yang juga disaksikkan bersama puluhan pengunjung masyarakat setempat dalam rangka pemilihan calon putra-putri duta wisata Kabupaten Paser atau lebih dikenal dengan istilah masyarakat setempat “kontes pemilihan Bujang Song dan Bujang Bawe” terdapat pemandangan langka yang belum pernah aku temukan sebelumnya, sebuah kesenian baru dari masyarakat Paser yaitu tarian Tuyo Dirong atau tarian pengobatan prosesi upacara belian.
Didukung beberapa penari gadis berparas cantik dengan bunyi khas gelang di tangan, mulung duduk menghadap tungku asap sesajian, diiringi suara musik dan sesekali terdengar suara lantunan mantra-mantra paranormal berbahasa Paser menjadikan kesenian tersebut menarik perhatian pengunjung. Menurut informasi yang aku dapatkan kesenian ini baru saja diikutsertakan di ajang pesta budaya nusantara di Jakarta dalam usaha mempromosikan potensi wisata di daerah ini. Usia menyaksikkan pertunjukkan kesenian itu, tepat pada acara puncak untuk menyaksikkan peragaan model dengan sosok tebar pesona penuh pengharapan dukungan melalui sms masyarakat setempat bagaikan pemilihan kontes di acara televisi tak menarik perhatianku hingga membuat aku tak bertahan lama.
Keesokan harinya pada minggu pagi untuk menghabiskan waktu liburan panjang, aku bersama beberapa sahabat terdekatku jalan-jalan untuk mengunjungi tempat wisata jauh dari keramaian untuk merasakan suasana alam terbuka dengan sungguhan air danau yang tenang dan semilir angin nan sejuk. Dibalik keindahan panorama alam tersebut sekeping perasaan tak nyaman menyikapi sesuatu yang belum kuperoleh membuat pendirianku goyah apakah aku harus tetap melangkah ke depan ataukah bertahan yang kiranya memaksakan. Manusia punya harga diri. Ya seperti itulah petuah lama mengatakan. Dari pada berkesan pengemis lebih baik aku memilih diam dan memasrahkannya dengan harapan kalau rezeki tak bakalan kemana. Seiring berjalannya waktu, sore hari pun aku kembali disibukkan untuk menemani kerabat untuk kunjungan silaturahmi diperkampungan pedalaman.
Menikmati jalanan penuh dengan hamparan batuan kerikil yang kiranya memaksa tangan letih untuk mengendalikan laju sepeda motor. Mataku kembali tertuju pada aktivitas Mahasiswa melakukan kegiatan yang lebih dikenal dengan istilah KKN di kantor kepala desa setempat. Selain itu juga menyaksikkan hamparan hijau tanaman padi, dan kondisi rumah penduduk yang dapatlah dikatakan masih sedikit mewarnai suasana perjalanan tersebut untuk menghabiskan waktu liburan.
0 Tanggapan ke “Jalan-jalan”