27
Jun
09

Malam Mencekam

Malam semakin larut entah kenapa suasana malam perkemahan tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Mungkinkah malam ini bertepatan malam Jum’at atau memang seperti ini resiko kondisi di tengah hutan jauh dari keramaian. Berbeda pada malam sebelumnya. Usia mengadakan acara api unggun sebagai acara terakhir karena keesokan pagi kami harus meninggalkan lokasi tersebut. Semua bergegas kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat. Sungguh melelahkan aktivitas yang penuh kegiatan untuk mengawasi peserta pramuka merambah semak belukar bergulat dengan teriknya panas matahari hingga azan magrib.

Sudah menjadi tugasku beserta panitia lainnya untuk menjaga keamanan ketika peserta pramuka tertidur lelap pada malam hari. Sambil ditemani canda gurau bersama panitia lainnya tiba-tiba sekitar pukul 12 malam bulu romaku menjadi merinding dikarenakan suara teriakan serigala yang begitu nyaring jauh di kegelapan memecah kesunyian tidak seperti kondisi malam sebelumnya. Untuk mengatasi ketakutan tersebut kami tetap membranikan diri patroli untuk mengamati keamananan beberapa tenda pramuka meskipun diliputi perasaan yang kurang nyaman.

Sungguh mencekam kondisi malam itu tiba-tiba terdapat keributan  dari salah satu tenda karena mereka melihat ular yang sangat besar, akan tetapi setelah kami memastikannya tidak ada satu pun ditemukan binatang tersebut. Rasa penasaran kami pun semakin menjadi-jadi. Tragisnya lagi manakala sekitar jam dua malam terdapat satu orang peserta pramuka yang berani melangkah dengan setengah sadar menuju ke semak belukar. Tak heran kami pun tunggang langgang untuk mengejarnya dan membujuknya tidur kembali ke tenda sembari komat kamit membaca mantra sekaligus menyimburnya dengan air bagai paranormal agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Konon katanya menurut kepercayaan masyarakat setempat apabila sudah dibawah pengaruh makhluk gaib tidak mudah untuk menemukannya kembali apabila sempat di bawa berjalan. Lebih parahnya lagi manakala peserta pramuka lainya sudah terlelap pulas dipembaringannya beralaskan terpal dan tikar seadanya hanya ditemani cahaya lampu seadanya sekitar pukul 3 subuh kami pun kembali ditakutkan dengan suara berisik berbagai binatang yang semakin keras dari kejauhan menemani kegelapan. Benar-benar angker suasana saat itu, untuk kesekian kalinya nyali kami kembali digoda.

Pendek kata, lambat laun setelah matahari mengeluarkan sinarnya saat perjalanan pulang terdapat perbincangan bagai diskusi untuk membahas peristiwa yang mencekam tadi malam bahkan sempat ada pengakuan beberapa orang yang melihat sosok bayangan penampakan. Kendati sulit diterima peristiwa tersebut di tengah perkembangan zaman seperti saat ini tapi itulah pengalaman yang aku dapatkan selama mengikuti kegiatan perkemahan tersebut.


1 Tanggapan ke “Malam Mencekam”


  1. Juni 27, 2009 pukul 4:50 p06

    Kayaknya, malam mencekam gak berlaku buat yang pada mojok deh ya hehe..

    ***slamat datang kembali. Seandainya ikut mungkin akan merasakan hal yang sama sudah tidak kepikiran hal-hal gituan lagi, serem banget!


Tinggalkan Balasan