23
Jun
09

kuliah

Melelahkan sekaligus hiburan dengan menggunakan sepeda motor untuk mengunjungi kota tepian Samarinda. Hal yang patut disayangkan setelah sekian lama tidak pernah melakukan perjalanan jauh, pajak STNK ku mati karena tidak pernah memperhatikannya. Meskipun demikian dengan kondisi itu tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi kota tersebut dengan  meminjam sepeda motor milik keluarga. Tak mengherankan dalam perjalanan tersebut bagiku agak canggung mengendarai kendaraan pinjaman.

Dengan dua sepeda motor secara beriring-iringan kami berangkat pada pagi hari dan menyebrang pery antara penajam dan Balikpapan. Sesampainya di Balikpapan menuju Samarinda ada hal menarik yang aku dapatkan di jalan bukit Soeharto. Tanjakan penuh liku-liku seperti ular, jalan yang mulus dan di sisi jalan pohon rindang yang dirawat membuat aku menikmati perjalanan jauh tersebut. Saat Tiba di  kota Samarinda banyak juga pemandangan asing yang aku lihat, yaitu sungai mahakam yang sangat lebar, kapal pengangkut batu bara, mesjid yang megah mengingatkanku pada kota kenangan Banjarmasin. Akan tetapi nampaknya kota ini penduduknya tidak terlalu padat mengingat masih banyaknya hutan bisa dijumpai dan penataan kotanya lumayan tertata rapi. Setelah kami bermalam di rumah keluarga pada keesokan harinya aku mengunjungi  perguruan tinggi yang cukup terkenal di propinsi ini untuk mendaftarkan kerabatku yang ingin kuliah.

Sesampainya di komplek kampus tersebut mataku menjadi kagum dengan bentuk bangunan kampus tersebut, mungkin pendapatan daerah dan perhatian pemerintah setempat bisa jadi mempengaruhi majunya bangunan kampus tersebut. Sambil menunggu keluargaku sibuk mendaftarkan diri aku pun hanya bisa mengamati hiruk-pikuk calon mahasiswa baru. Sempat juga mengamati penduduk di sini yang berasal dari berbagai suku bangsa, akan tetapi menurutku meskipun hanya sesaat menginjakkan kaki di tempat ini nampaknya pengaruh bahasa banjar lumayan kuat. Selain itu aku juga sempat menanyakan selayang pandang program S2, tapi nyaliku menciut manakala mendengar biayanya dan berharap semoga saja suatu saat nanti ada nasib.

Pendek kata, setelah selesai mendaftarkan kerabatku. Aku dan keluargaku secara beriringan bergegas meninggalkan kota Samarinda untuk balik ke kampung halaman tepat pukul 1 siang dan akhirnya menyebrang pery dari Balikpapan menuju Penajam. Tepal pukul 06.30 sore sesampainya tiba di Penajam suara azan magrib pun terdengar. Akhirnya kami pulang dengan ditemani cahaya lampu malam sepeda motor, deretan ribuan pepohonan, sesekali berpapasan kendaraan motor lainnya. Sehingga pukul jam 12 malam sesampainya di rumah aku pun langsung terdampar di lantai rumah karena kelelahan.


0 Tanggapan ke “kuliah”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan