Pernah kita merasa tidak nyaman dengan keberhasilan orang lain? Senang bila bisnis teman merosot? Lega atas musibah yang menimpa tetangga? Atau tak rela bila pujian bukan untuk kita? Berkaitan dengan itu akan memunculkan bencana yang lebih besar. Penyakit iri dan dengki dapat menimpa siapa saja. Tak peduli status sosial, umur, dan jenis kelamin. Bahkan dengki pun bisa menjangkiti seorang pemimpi. Manakala mereka terlena dengan dunia dan terbius hawa napsunya. Iri dan dengki bisa muncul di kancah politik, di pasar, di kantor, atau di sekolah. Termasuk dalam pergaulan sehari-hari.
Iri biasanya muncul akibat persaingan dan memunculkan perasaan cemburu. Bila terus di pupuk, maka muncullah dengki. Kedengkian akan memunculkan siasat untuk memakan hak orang lain. Dan itulah awal dari bencana yang lebih besar. Dengki adalah persoalan yang bermula di hati lalu bermuara pada perilaku dan jiwa. Pada tingkatan ringan kedengkian hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa gelisah. Tapi pada kadar yang berat dengki akan memunculkan rasa frustasi, stress hingga gangguan kejiwaan. Apapun tipenya, yang perlu diingat adalah efek dari dengki tetap saja buruk. Di sisi lain, orang yang didengki justru mendapatkan keuntungan. Apalagi jika mendapat umpatan, fitnah, dan kehinaan dari lainnya. Semakin banyak keburukan yang ditimpakan kepada orang yang didengki, maka semakin bertambah pula hadiah yang akan diperoleh orang yang didengki.
Hampir setiap orang pernah terjangkit rasa dengki. Hanya saja ada yang melayani rasa dengkinya, ada yang menyesali dan ada pula yang berusaha keras menghindarinya. Tetapi menghindari secara bijaksana bagaimana? Untuk menjawab tersebut ada beberapa kiat, diantaranya:
Syukuri diri!
Salah satu pintu kedengkian adalah manakala kita tidak pandai menyukuri apa yang ada. Kita selalu merasa kurang, tidak puas dan kecewa dengan keadaan diri sendiri. Barangkali kita akan merasa sedih dan panas hati manakala orang lain mendapat nikmat dari kebaikan. Cobalah pandang diri sendiri, niscaya kita akan menemukan begitu banyak kebaikan di sana. Kalaulah kita menemukan sesuatu yang kita anggap buruk, seperti merasa diri tidak cukup cerdas dan sebagainya, ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang kita anggap buruk itu bisa jadi sesungguhnya baik bagi kita.
Jangan pikirkan bukan milik kita
Ingatlah, setiap manusia diciptakan dengan potensi dan kebaikannya sendiri. Masing-masing telah memiliki jatah yang pas untuknya dan akan dimudahkan untuk mencapai kadar tersebut. Tak perlu dengki dan sakit hati pada orang yang mendapat nikmat karena sesungguhnya itu memang jatahnya. Berusahalah untuk mencapai cita-cita dan harapan tanpa didahului oleh rasa dengki karena orang lain telah mencapai nikmat itu lebih dahulu. Jangan pernah memikirkan sesuatu yang bukan milik kita. Sebab, setiap nikmat akan memiliki perhitungannya sendiri.
Rendah hati
Adakalanya kita merasa diri ini penting, dibutuhkan orang lain, dan dihormati manusia. Persaan ini dapat berkembang menjadi sombong dan takabur. Kita merasa lebih tinggi dan lebih baik dari orang lain, sehingga tidak mau didahului dan dikalahkan orang lain. Pupuslah rasa ini dengan dengan kerendahan hati. Tak perlu selalu menempatkan diri kita sebagai manusia menilai anda. Meski kita seorang pemimpin, tak salah bila kita berbaur dan duduk diantara pengikut anda tanpa pakaian dan rasa kesombongan.
Menutup tulisan sederhana ini semoga dapat bermanfaat untuk menggugah kesadaran kita bersama. Dengan demikian pesan orang bijak mengatakan tengoklah sekeliling. Berapa banyak orang yang lebih sulit, lebih hina, dan lebih sengsara hidupnya dari kita.
0 Tanggapan ke “Iri dan Dengki”