Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sore itu begitu muram. Cahaya jingga di kota besar mendadak hilang. Cakrawala tenggelam tertutup awan hitam. Sinar matahari senja itu telah raib kemana. 9 Pebruari mendung! Selepas senja sayup-sayup angin berhembus. Sementara cahaya halilintar berkilat-kilat di udara, diantara awan hitam yang menggantung di langit. Dan akhirnya awan yang sejak tadi mendung itu menumpahkan segala isinya. Hujan benar-benar deras! Percikannya mengotori debu. Waktu bergulir tanpa terasa. Malam datang menyelimuti. Gelap dan dingin. Kabut putih menutupi pohon dan hanya menyisakan bayangan hitam. Sesekali suara burung malam menyelingi nyanyian serangga dan binatang malam.
14 Pebruari. Sebenarnya tak ada yang spesial pada hari itu. Bukankah semua hari adalah tidak berbeda, bila bicara tentang kasih sayang? Mungkin bagi Agus, remaja tanggung yang hidup dipinggiran kota, atau mungkin juga remaja-remaja ABG lainnya, menganggap hari itu begitu mengesankan. Entah apanya yang membuat mereka terkesan.
Barangkali karena begitu gencarnya propaganda majalah-majalah remaja top, serta selebaran-selebaran, buletin-buletin, brosur, atau iklan-iklan tentang café atau hotel yang menggelar acara khusus menyambut Valentine’s day, dan yang tak kalah dahsyatnya adalah acara di televisi yang begitu dibuat semarak, juga radio-radio yang tak henti-hentinya menyiarkan hari kasih sayang! Itulah yang membuat sore itu Agus begitu menggebu-gebu untuk mendatangi Bunga, datang kerumahnya, di pusat kota. Kalau sampai tak menghadiri, bisa-bisa Agus dianggap telah ketinggalan zaman! Nggak nge-trend! Kuno atau kampungan.
Pokoknya Agus harus datang. Seperti pasangannya sore itu, Bunga, yang telah berkaos warna pink, anting pink, serba pink! Padahal untuk mendapatkan itu semua Bunga harus rela untuk tidak jajan selama plus-minus dua bulan! Dan terpaksa minta tambahan orang tuanya. Dan tentu saja Agus, cowok yang baru-baru ini lengket dengannya, memberi sokongan dana. Makanya, Agus begitu berharap dapat kucuran “IMF” dari Ayahnya. Dan Ayahnya yang tak tahu apa-apa itu mesti ikhlas menyalurkan bantuannya, meskipun terkadang ia di tengah terpaan matahari dan hujan sebagai petani.
Selepas magrib Agus tiba di rumah Bunga. Sayup-sayup angin menjemput mereka. Sementara cahaya halilintar berkilat-kilat di udara, diantara awan hitam yang menggantung di langit. Dan Akhirnya awan yang sejak tadi mendung itu menumpahkan segala isinya. Hujan benar-benar deras! Percikannya mengotori tubuh mereka. Sepatu Agus yang bewarna putih itu telah berubah menjadi hitam kecoklat-coklatan, karena cipratan air parit dekat teras yang muncul tak beraturan.
Perbincangan antara Agus dengan Bunga di teras rumah tak terhindarkan. Yang keluar dari mulut mereka benar-benar kata-kata mutiara. Namun perbincangan dua sejoli di teras rumah itu nyaris tak terdengar disebabkan karena gemuruh halilintar yang menggelegar, juga oleh riuhnya hujan, oleh desah ranting-ranting yang diterpa angina, dan oleh gemercik air parit yang memenuhi meluap tertahan sampah. Semua itu akibat derasnya hujan, seperti hendak melumat bumi dan isinya.
Mereka baru berhenti berdiam ketika hujan hampir reda. Mungkin keduanya telah kehabisan kata-kata atau mungkin merasa lelah. Setelah lama terdiam, Agus membuka mulut dan kejujuran hatinya “maaf boleh gak aku jadi pacar kamu?” Bunga diam seribu bahasa. “saya belum siap menjawab terlalu cepat, karena kita belum mengenal”. Memecahkan kesunyian. Kembali sepi. Yang terdengar hanya rintik-rintik air, sisa hujan barusan. Agus menatap Bunga, lalu kepada dirinya sendiri seraya berkata “kalau tidak bisa apa boleh buat”. Sebenarnya Bunga agak takut menjawabnya. Terlintas pengalaman semakin cepat jadian, maka semakin cepat putus. Tapi kerisauan Bunga yang sudah sekian lama menanti pangeran hatinya dan tak mau kesepian menemaninya dengan malu-malu tertunduk bunga mennjawab “iya aku terima”. Bunga tersenyum dan Agus pun tersenyum juga dan tertawa dalam hati. Hujan telah benar-benar reda. Rembulan menampakkan diri. Bintang-bintang berlarian di angkasa. Sepasang anak muda tersenyum bahagia. Bagi Agus, apa yang telah terjadi malam ini memiliki makna tersendiri, bahwa cintanya pertama di kota besar telah ia peroleh.
Bersambung
0 Tanggapan ke “Kias 6”